Sabtu, 23 Februari 2013

KONDISI UMUM FISIOGRAFIS INDONESIA

Kondisi Tektonik Kepulauan Indonesia
Assalamu'alaikum dan selamat siank semua... ^_^
Di bawah terik mentari yang panas, sumuk, dan mengantuk ini, saya ingin berbagi catatan kuliah Geomorfologi saya tentang Kondisi Umum Fisiografis Indonesia. Semoga bermanfaat.

Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 5 pulau besar dan sekitar 300 kelompok pulau yang lebih kecil. Selain itu, ada 13.667 pulau dan 6000 diantaranya tak berpenghuni. Letak kepulauan Indonesia adalah di antara 2 samudra, yaitu Pasifik dan Hindia, serta terletak antara pertemuan Benua Asia dan Australia. Indonesia memiliki luas total 9,8 juta km, dan lebih dari 7,9 juta km berupa perairan.


1. KONDISI GEOLOGI INDONESIA
Secara fisik, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan berada di Dangkalan Sunda. Pada daerah ini kedalaman air tidak sampai 200m. di sebelah timur,ada Pulau Irian Jaya dan Aru yang terletak pada Dangkalan Sahul yang merupakan bagian dari Benua Australia. Diantara kedua Dangkalan tersebut terdapat kelompok kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Halmahera. Pulau-Pulau tersebut dikelilingi oleh Laut dalam yang mencapai 5000m kedalamannya.
            Sekitar 60 palung tersier tesebar dari Sumatra sampai Irian. Sejauh ini hanya 38 palung yang tereksplor dan dibor untuk keperluan industri minyak dan 14 diantaranya menghasilkan minyak dan gas. 73% dari palung tersebut terletak di offshore, sepertiganya terletak di Laut yang lebih dalam dengan kedalaman lebih dari 200m. 

    A. Kerangka Tektonik Regional Indonesia

            Kepulauan Indonesia berada di lempeng Eurasia sebelah tenggara. Dibatasi oleh lempeng Indo-Australia di sebelah selatan dan barat. Sedangkan di sebelah di timur oleh lempeng Pasifik. Bagian pinggir lempeng-lempeng tersebut mengalami tumbukan dan menghasilkan zona subduksi, busur vulkanis, dan struktur formasi yang terentuk akibat tekanan dan penunjaman.
Secara umum, fisiografis Indonesia didominasi oleh 2 Dangkalan. Yaitu Dangkalan Sunda dan Dangkalan Sahul yang tersusun dari kenampakan geologi berupa Laut dalam, Palung, dan Busur Kepulauan. Kedua dangkalan tersebut memiliki peranan yang penting dalam menjaga stabilitas lempeng Benua. Dangkalan Sahul merupakan bagian dari Lempeng Australia yang terdiri dari Irian Jaya, Laut Arafuru, dan bagian selatan ke arah Australia. Sedangkan dangkalan Sunda merupakan bagian dari lempeng Eurasia yang terdiri dari bagian selatan Malaka, sebagian besar Sumatra, Jawa, dan Kalimantan, sebagian Laut Jawa, dan bagian selatan Laut China Selatan.
               Daerah dangkalan ini tersusun atas batuan sedimen Pre-Tertier dan batuan beku kristalin, serta batuan metamorf yang stabil sejak zaman Tertier. Bagian pinggir yang tidak stabil disebabkan oleh tumbukan maupun pergerakan lempeng sehingga terbentuk magmatic arc dan busur luar vulkanik. Daerah busur luar vulkanik antara lain: Sumatra, Jawa, dan sampai di bagian Sunda dalam yaitu Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, dan Pulau-pulau kecil di Laut Banda. Busur luar vulkanik terdiro dari Pulau Sumatra bagian barat dan Pegunungan dasar laut di selatan Pulau Jawa sampai Kepulauan vulkanik di Timor, Tanimbar, Kai, dan Seram.
            Ketika konsep baru tentang lempeng tektonik dikenalkan pada tahun 1967, Indonesia bagian barat menjadi perhatian utama. Wilayah ini memiliki palung laut yang dalam, rantai vulkanik, cekunagn sedimen, dan kawah yang terdapat pada lempeng. Wilayah ini terletak pada zone konvergensi antara Lempeng Samudra Hindia yang bertumbukan dengan Lempeng Benua Eurasia. 

Menurut studi yang dilakukan oleh Katili (1971), lempeng tektonik Indonesia bagian barat memiliki zone structural yang mencakup daerah transversal Sumatra dan Jawa, Yaitu:
a. Daerah subduksi aktif
b. Magmatic arc/ Volkanic arc
c. Back arc basin
            Zone subduksi senantiasa bergerak. Magmatic arc memiliki zona yang berlapis-lapis. Sedangkan Back arc Basin dibagi menjadi beberapa subdivisi antara lain:
            a. Palung
            b. Busur luar non vulkanis
            c. Cekungan busur samping
            d. Busur vulkanis
            e. Cekungan busur dalam
            f. Sunda Continental craton

KONDISI GEOMORFOLOGI INDONESIA
Wilayah Geomorfologi Indonesia secara astronomis terletak antara 21° LU s/d 11 LS° dan 81°15 BT s/d 150°48 BT. Wilayah ini meliputi seluruh daerah Indonesia secara politis/administratif ditambah dengan Andaman-NikoBar, Filipina, Papua Nugini, Jasirah Malaka, dan kepulauan Christmast.
            Keadaan Geologi/Geomorfologi Indonesia sangat kompleks yang ditandai oleh pengangkatan yang aktif dengan beberapa daerah stabil seperti Dangkalan Sunda dan Sahul. Di samping itu juga dikelilingi oleh cekungan-cekungan laut dalam, seperti: basin Laut Cina Selatan, basin Filipina, basin Carolina, basin Sunda, basin Sulawesi, basin Banda.
            Kerangka Geomorfologi Indonesia dibentuk oleh beberapa system pegunungan, yaitu:
1.      Sistem Pegunungan Tethys, meliputi:
a.       Busur Luar, bersifat non vulkanik
b.      Busur Dalam, bersifat volkanik
c.       Busur Pegunungan Tersier, bersifat non volkanik
2.      Sistem busur Tepi Asia Timur, meliputi:
a.       Busur luar Kalimantan, bersifat non vulkanik
b.      Busur dalam Kalimantan,  bersifat non vulkanik
c.       Busur lengan utara Sulawesi, bersifat non vulkanik
d.      Busur Maluku Utara, bersifat vulkanik
3.      Sirkum Australis, meliputi:
a.       Busur Irian Utara, bersifat vulkanik
b.      Busur Irian Tengah, bersifat non vulkanik

            Gerak kulit bumi di Indonesia tergolong aktif yang ditandai oleh:
1.      Gempa bumi tektonik yang terjadi di Indonesia dengan intensitas rata-rata 500 kali/tahun
2.      Volkanisme jug aktif, yang ditandai oleh banyaknya volkan aktif sebanyak 177 buah
3.      Anomali gravitasi di Indonesia termasuk besar, misalnya di sabu 1+x
4.      Relief Indonesia termasuk kasar, yang ditandai oleh banyaknya palung laut dan volkan/pegunungan tinggi
5.      Mempunyai lapisan ideogeosinklinal yang memanjang dari Sumatra timur, Jawa Utara, Kalimantan Timur, lengan selatan Sulawesi, Maluku Selatan, sampai Papua.
            Menurut Hang terjadinya lapisan ideogeosinklinal yang mempunyai tetal antara 10.000 s/d 15.000 meter disebabkan oleh proses penenggelaman secara perlahan-lahan yang diikuti sedimentasi juga secara perlahan-lahan. Hal ini dapat diketahui melalui kajian stratigrafis dan Paleontologis.
            Keadaan morfologi Indonesia yang kasar selain disebabkan proses endogen (pengangkatan dan penurunan), juga disebabkan oleh proses eksogen. Proses eksogen tersebut adalah iklim tropis basah yang mempercepat terjadinya erosi, pelapukan, gerakan masa batuan, maupun denudasi. Dengan adanya kedua factor tersebut (proses endogen dan eksogen) yang terjadi di Indonesia maka keadaan morfologinya relative konstan.
           
            Untuk memahami kondisi geomorfologi Indonesia perlu dikemukakan secara global prinsip-prinsip Teori Penggelombangan (Undasi) seperti berikut ini. Proses terbentuknya berbagai deretan pegunungan di dunia diawali oleh peristiwa fisika-kimiawi di lapisan substratium yang menyebabkan adanya penonjolan/penggelombangan di permukaan bumi. Proses ini kemudian diikuti oleh proses penurunan permukaan muka bumi, yang menyebabkan adanya retakan, melalui retakan tersebut magma menyusup ke lapisan di atasnya membentuk akar pegunungan (asthenolith). Lapisan kulit bumi yang sudah mempunyai akar pegunungan tersebut selanjutnya mengalami pengangkatan I. Pada saat pengangkatan I ini magma belum sampai ke permukaan bumi, sehingga pegunungan yang dihasilkan dari proses ini bersifat non Volkanik, contohnya: Busur Luar Sistem Sunda. Di tempat ini kemudian mengalami penurunan, sehingga terjadi proses migmatisasi yang menghasilkan detolith sebagai akibat pelarutan kulit bumi. Proses ini akan diikuti oleh pengangkatan II, yang akan menghasilkan deretan pegunungan yang bersifat vulkanik karena magma sudah dapat mencapai permukaan bumi, contoh: Busur Dalam Sistem Sunda. Proses ini juga akan diikuti oleh penurunan yang diteruskan oleh pengangkatan III. Oleh karena magma yang sampai ke permukaan bumi sudah lemah, maka pegunungan yang dihasilkan bersifat non vulkanik, contohnya deretan pegunungan di Kalimantan. Apabila terjadi proses penurunan berikutnya maka akan menghasilkan daerah yang stabil. Aktivitas penggelombangan ini dapat terjadi secara berulang apabila tenaga endogen di suatu tempat memungkikan untuk melakukan hal itu. Teori penggelombangan ini dikemukakan oleh Van Bemmelen.
            Secara garis besar batuan penyusun kulit bumi Indonesia terdiri atas batuan volkan Pasifis dan Atlantis. Batuan volkan Pasifis adalah batuan yang asam/agak asam, dengan kandungan silikat cukup banyak, biasanya diikuti gas yang eksplosif pada saat erupsi. Contoh: batuan dasit, diorite yang banyak dijumpai di Sumatra. Sedangkan batuan volkan Atlantis adalah batuan yang bersifat basa (sedikit silikat), umumnya merupakan hasil pengangkatan I dan kadang-kadang banyak kapurnya, contoh: batuan ophiolith, basalt.

DAFTAR RUJUKAN:




0 komentar:

Poskan Komentar