Sabtu, 08 September 2012

BENTUK LAHAN ASAL PROSES AEOLIAN

Lahan aeolian merupakan lahan yang terjadi karena bentukan asal proses angin dan gabungan pelapukan dengan aliran air (Herlambang, 2009). Di mana dalam proses terjadinya melalui pengikisan, pengangkutan, dan juga pengendapan. Pengikisan oleh angin seperti halnya air yang mengalir, adapun sebagai kekuatan untuk mengikis adalah pasir yang halus. Istilah aeolian berasal dari nama dewa Yunani, Æolus, penjaga angin . Aeolian (atau Eolian atau Aeolian) berkaitan dengan proses aktivitas angin dan lebih khusus lagi, kepada angin kemampuan untuk membentuk permukaan bumi dan planet-planet.  Angin dapat mengikis, mengangkut, dan mengendapkan, bahan-bahan material di daerah yang  jarang terdapat vegetasi dan wilayah sedimen yang luas. Meskipun air jauh lebih kuat daripada angin, proses aeolian merupakan proses yang penting pada daerah kering seperti gurun. (Wikipedia).
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk lahan aeolian adalah bentuk lahan yang terbentuknya akibat proses angin. Yang mana memiliki kemampuan untuk mengikis, mengangkut, dan mengendapkan material-material pasir ataupun debu.

Syarat-Syarat Berkembangnya Lahan Aeolian
  1. Tersedia material berukuran pasir halus-kasar dalam jumlah banyak.
  2. Adanya periode kering yang panjang dan tegas.
  3. Adanya angin yang mampu mengangkat dan mengendapkan bahan pasir tersebut.
  4. Gerakan angin tidak banyak terhalang oleh vegetasi/objek lain.

Endapan angin terbentuk karena pengikisan, pengangkutan, dan pengendapan bahan-bahan tidak kompak oleh angin. 

Proses Terbentuknya Lahan Aeolian

A. Pengikisan oleh Angin
Angin mengikis permukaan bumi melalui deflasi, eddy turbulensi, dan abrasi. 

1.    Deflasi (deflation)
            Proses deflasi merupakan gerakan tiupan angin yang membawa materi batuan, baik berupa debu halus, pasir, maupun materi yang kasar dan berat. Proses ini sering terjadi di daerah yang merupakan tempat terkumpulnya pasir, misalnya di basin kecil atau pada bukit pasir. Deflasi cenderung menyebabkan terbentuknyaa formasi-formasi baru di daerah depresi. Dibandingkan dengan erosi air atau sungai keadaannya berlawanan, erosi air di daerah yang berelief tinggi sangat kuat, sebaliknya erosi angin/deflasi di daerah cekungan/basin sangat kuat.
            Deflasi hanya dapat terjadi setelah materi batuan mengalami pencucian dan kemudian dibawa ke tempat yang kebih rendah. Materi yang diendapkan tersebut pada umumnya berupa butiran halus sehinnga mudah menglami deflasi.

2.    Korasi (corrasion)
Korasi angin dapat menimbulkan beberapa bentuk atau bentang alam yang sangat luas. Gerakannya hanya dapat terjadi di dekat permukaan tanah. Ini terjadi karena angin tidak dapat mengangkut pasir ke tempat yang lebih tinggi lagi.
Berdasarkan kerjanya korasi dapat dibedakan :
a.    Polishing dan pitting
Gerakan angin yang membawa/disertai pasir disebut dengan polishing. Gerakan angin yang membawa pasir mempunyai kemampuan untuk melubangi batuan, kemampuan untuk melubangi batuan ini disebut dengan pitting.
b.    Grooving dan shaping
Batuan yang telah berlubang sebagai akibat kekuatan pitting akan terus mengalami proses pembentukan lubang sehingga makin lama makin besar dan dalam. Proses melubangi secara terus-menerus sehingga menjadi lubang yang besar dan dalam disebut dengan grooving.
Batuan yang berlubang-lubang besar tersebut kemudian berubah menjadi pecah-pecah dan berkeping-keping. Proses terjadinya pecahan dan keping-keping ini disebut shaping.
c.    Faceting
Batuan yang telah berkeping-keping berubah menjadi lebih kecil lagi. Proses perubahan batuan menjadi bagian lebih kecil disebut dengan faceting.
Kecepatan korasi terhadap massa batuan di daerah kering sangat tergantung dari tingkat kekerasan batuan dan kekuatan angin itu sendiri.


B. Pengangkutan oleh Angin
Materi batuan yang mudah terangkut oleh angin adalah materi-materi halus, misalnya debu. Materi yang halus ini akan diterbangkan angin sampai ke tempat yang cukup jauh. Adapun jenis-jenis gerakan pengangkutan materi oleh angin adalah:

1.    Suspensi (suspension)
Merupakan gerakan vertikal tiupan angin yang mampu mengangkut materi-materi halus ke tempat yang lebih jauh. Gerakan ini tidak besar peranannya dalam mengangkut pasir karena kemampuan mengangkut ke atas sangnt terbatas.
Pada saat angin mengangkut debu kadang-kadang disertai dengan gerakan turbuler. Kecepatan angin tidak selalu tetap tetapi selalu mengalami variasi periode yang pendek sehingga menyebabkan adanya tekanan angin. Tekanan angin ini menyebabkan udara berputar ke segala arah, putaran udara ke segala arah inilah yang dapat menyebabkan terjadinya gerakan suspensi.

2.    Saltasi (saltation)
Yaitu gerakan meloncat materi butiran yang disebabkan oleh tabrakan dan pantulan angin yang bermuatan pasir. Gerakan saltasi secara langsung disebabkan tekanan angin terhadap butiran pasir, pasir yang ditiup angin pada umumnya mempunyai gerakan saltasi.

3.    Rayapan permukaan (surface crep)
Gerakan rayapan permukaan disebabkan oleh karena tubrukan materi butiran oleh gerakan saltasi. Terjadinya tubrukan materi butiran ini secara teratur, tetapi kadang-kadang juga tersebar menjadi pecahan-pecahan di atas tempat jatuhnya pasir. Oleh karena benturan ini gerakan materi butiran menjadi lambat yang selanjutnya menjadi rayapan permukaan.Kadang-kadang angin yang mengangkut debu atau pasir bergerak berputar seperti spiral, gerakan seperti ini disebut dengan badai debu.

C. Pengendapan oleh Angin
Proses pengendapan ini terjadi apabila butiran yang telah terbawa angin tadi jatuh setelah gerakan menjadi lambat. Selain karena kecepatan yang menjadi lambat, pengendapan juga dapat terjadi karena butiran yang terbawa oleh angin mengalami benturan terhadap permukaan kejadian ini sebagai hasil dari proses saltasi dan rayapan tanah. Apabila butiran tersebut tidak membentur permukaan dan terus terbawa angin, maka butiran tersebut akan mengalami gerakan sepanjang permukaan hingga menemukan tempat mengendap, pada umumnya tempat pemberhentian tersebut berupa cekungan. Bentuk endapan dari proses ini tidak datar atau halus tetapi bergelombang. Setelah mengendap butiran-butirabn tersebut mengumpul menjadi suatu bentuk lahan yang baru.

Bentuk Lahan Hasil Aeolian

A. Bentuk Lahan Hasil Erosi Angin
1.    Desert pavement (pebble armor) 
yaitu permukaan yang terdiri atas batuan kerikil dan kerakal di daerah gurun, sebagai akibat bahan-bahan halus mengalami deflasi.





2.    Blow out, 
cekungan di daerah gurun sebagai akibat deflasi pada materi hasil pelapukan di permukaan yang berukuran halus.






3.    Ventifact 


permukaan batuan yang menjadi rata karena korasi, terutama yang berukuran halus (debu dan liat) yang terbawa oleh angin.





4.    Dreikanter,

seperti ventifact tetapi bentuknya piramida karena arah angin berubah-ubah (dari tiga sisi).






5.    Groove 
merupakan alur-alur memanjang pada permukaan batuan karena erosi angin.
6.    Yardang 
merupakan pegunungan memanjang dan paralel (tinggi< 10m, panjang -100m ) berkembang di daerah bebatuan lunak.








Bentuk-Bentuk Hasil Pengendapan Angin

Aktivitas angin dalam mengendapkan material dipengaruhi oleh kecepatan angin, rintangan (batu, vegetasi), dan material yang dibawa oleh angin.
1.    Loess 
yaitu endapan oleh angin berupa debu, pada umumnya berwarna kekuningan, tersusun dari berbagai mineral tidak berlapis-lapis tetapi cukup kuat terikat.



2.    Endapan pasir,ada beberapa tipe yang ditentukan oleh jumlah pasir dan vegetasi:
a.    Sand sheet adalah hamparan pasir tipis yang menutup daerah relatif datar, permukaannya tidak bergelombang.
b.   Ripple (riak) adalah endapan pasir yang permukaannya bergelombang, tinggi bervariasi 1-500mm, panjang 50-300m. endapan pasir tebal yang permukaannya bergelombang ripple tetapi lebih besar disebut undulasi; yang tingginya sampai 400m dan panjang 4km disebut draa (Mcgadune).
c.    Sand shadow, adalah timbunan pasir di belakang suatu rintangan, seperti semak-semak/batu.
d.   Sand fall adalah timbunan pasir di bawah cliff atau gawir.
e.    Sand drift yaitu timbunan pasir pada suatu gap/celah antara dua rintangan.

3.    Gumuk pasir (dunes) adalah gundukan bukit/igir dari pasir yang teerhembus angin. Gumuk pasir mempunyai penampang tidak simetri, kemiringan lereng pada arah datangnya angin 5º sampai dengan 10º dan arah membelakangi arah angin 30º sampai dengan 34º. Apabila tidak ada stabilisasi oleh vegetasi gumuk pasir cenderung bergeser ke arah datangnya angin.
Pada umumnya gumuk pasir terdapat di daerah:
1.      Mempunyai pasir sebagai material utama.
2.      Kecepatan angin tinggi, untuk mengikis dan mengangkut butir-butir berukuran pasir.
3.      Permukaan tanah yang tersedia untuk pengendapan pasir.
Selain itu gumuk pasir juga terdapat di:
1.      Gisik pasir dengan angin pantai
2.      Dekat sungai yang dasarnya pasir
3.      Daerah yang mempunyai musim kering
4.      Daerah gurun yang mengalami penghancuran batuan
5.      Endapan glasial dan dasar danau glasial pasiran.

Gumuk pasir dapat dibedakan menjadi:
a.   Gumuk pasir sabit (barchan), sisi yang menghadap arah angin landai dan yang di belakang (slip face) terjal. Penampang gumuk tidak simetri pada puncaknya, tetapi berangsur-angsur menjadi hampir simetri pada tanduknya. Ketinggian 5-15m maksimum 30m. Berkembang di daerah yang vegetasinya terbatas.

b.    Gumuk pasir melintang (transversal dunes), posisi melintang arah angin/ tegak lurus arah angin. Terbentuk pada daerah yang banyak cadangan pasirnya dan sedikit tumbuhan. Sering meliputi daerah luas dan berkembang berbentuk seperti ombak dengan punggung melengkung dan melintang tegak lurus arah angin. Penampang tidak simetri, lebar tujuh kali ketinggian. Ketinggian 5-15m maksimum 100m. dapat berubah menjadi sabit apabila sumber pasirnya berkurang.

c.    Gumuk pasir parabolik (parabolic dunes), berbentuk sabit dengan tanduk yang panjang ke arah datangnya angin. Terbentuk di mana vegetasi menahan bagian tanduk. Memungkinkan bagian tengah gumuk berpindah dan menghasilkan gumuk berbentuk jepit rambut. Penampang tidaksimetri pada puncak dan hampir simetri pada tanduk, sisi belakang gumuk lebih curam daripada sisi depannya. Gumuk tidak mudah berpindah, dengan ketinggian 1:15m. Gumuk pasir parabolik dapat terbentuk karena blow out.

d.   Gumuk pasir memanjang (longitudinal dunes/seif), berupa gundukan pasir yang hampir klurus sejajar arah angin. Terjadi karena pengaruh angin yang kuat terkumpul dan berhembus dengan arah tetap. Penampang gumuk simetris, ukuran lebar beberapa kali ketinggian. Ketinggian <15m,panjang beberapa kilometer, pada gurun yang luas ketinggian mencapai 200m dan panjang 300km. Gumuk pasir memanjang di gurun seperti di atas disebut seif. Ukuran partikel material pada gumuk pasir ini mempunyai kisaran 0,05-0,5mm karena sortasi angin sangat baik.

e.    Whaleback dunes, adalh gumuk pasir longitudinal yang sangat besar, puncaknya datar dan di atasnyadapat terbentuk barchan, dan seif, kecil-kecil.

sumber:

Herlambang, Sudarno. 1991. Proses Geomorfologi. Malang: Universitas Negeri  Malang.
Herlambang, Sudarno.2009. Dasar-Dasar Geomorfologi. Malang: Universitas Negeri Malang.
http://adityamulawardhani.blogspot.com/2009/02/bentang-alam-eolian.html 
http://www.physicalgeography.net/fundamentals/10ah.html 




0 komentar:

Poskan Komentar